Minggu, 07 September 2025

Sering dianggap gila, inilah beberapa pemikiran Diogenes yang ternyata relevan untuk anak muda jaman sekarang.

 Sering dianggap gila, inilah beberapa pemikiran Diogenes yang ternyata relevan untuk anak muda jaman sekarang.

 

Diogenes, juga dikenal sebagai Diogenes dari Sinope, yang lahir ±412–323 SM, merupakan seorang filsuf Yunani kuno yang sangat terkenal sebagai tokoh aliran Sinisisme.  Kata “Sinisisme” berasal dari bahasa Yunani “Kynikos” (κυνικός) yang berarti “Seperti Anjing”. Para pengikut aliran Sinisisme termasuk Diogenes disebut demikian karena mereka menjalani hidup yang sederhana layaknya seekor anjing, menolak norma sosial, harta, dan kemewahan.

Inilah beberapa pemikiran Diogenes yang relevan untuk anak muda jaman sekarang.


Menjalani Hidup dengan Penuh Kesederhanaan

Diceritakan bahwa Diogenes tidak mempunyai rumah sebagai tempat tinggal, ia tinggal di dalam tong yang terletak di tengah-tengah kota, dan yang ia miliki hanyalah sebuah cangkir. Diceritakan bahwa saat Diogenes melihat anak kecil minum air menggunakan tangannya, ia langsung membuang cangkir satu-satunya itu. Ia berpikir bahwa jika ada cara yang lebih sederhana, kenapa harus pilih cara yang rumit?. Kesederhanaan bagi Diogenes merupakan cara untuk mempermudah dalam menjalani hidup, bagi dia, perkembangan teknologi hanya menambah permasalahan dalam menjalani hidup.

Relevansinya adalah kita sering melihat banyak anak muda yang sering terjebak Flexing dan gengsi sosial, sehingga anak-anak muda jaman sekarang jika tidak menuruti gengsinya, ia akan merasa ketinggalan jaman. Dengan cara berpikir Diogenes yang sederhana dan minimalis bisa membuat anak-anak muda lebih merdeka dari tuntutan-tuntutan dan tekanan sosial seperti gengsi tersebut dan lebih fokus pada nilai diri, bukan dari penampilan luar.

Gaya hidup minimalis Diogenes merupakan sebuah pemberontakan yang positif terhadap gaya hidup konsumerisme. Menolak arus konsumerisme bisa menjadi bentuk perlawanan terhadap sistem yang mendorong kita terus membeli hal-hal yang tidak diperlukan.


Berani Nyeleneh Kalau Itu Benar



Diceritakan, Pada suatu siang yang cerah, di Agora (pusat kota) Athena yang ramai, seorang filsuf bernama Diogenes dari Sinope berjalan sambil membawa lentera yang menyala. Banyak orang yang heran dan kebingungan melihat tingkah lakunya yang aneh. Mereka bertanya, "Apa yang sedang kau lakukan?"

Diogenes, dengan acuh tak acuh dan tanpa berhenti melangkah, menjawab, "Aku sedang mencari manusia."

Dengan membawa lentera di siang hari yang terang, Diogenes ingin menunjukkan bahwa meskipun kota Athena dipenuhi oleh ribuan orang, ia tidak dapat menemukan satupun "manusia sejati." Baginya, yang dimaksud dengan "manusia sejati" bukanlah sekadar makhluk biologis, melainkan individu yang berpegang teguh pada kebajikan (virtue), kejujuran, dan logika, serta hidup dengan integritas tanpa kepura-puraan.

Tindakan Diogenes ini adalah sebuah kritik tajam terhadap masyarakat Athena yang ia anggap munafik dan korup. Meskipun mereka mengklaim diri sebagai peradaban maju, Diogenes melihat bahwa mereka telah kehilangan esensi kemanusiaan sejati, yaitu kejujuran dan kebajikan. Ia mencari, namun tidak menemukannya.

Jika dibawa ke konteks modern, Banyak orang di jaman sekarang, terutama media sosial, membangun pencitraan (filter, editan, dan pencitraan lainnya) sedangkan ia kehilangan keaslian dirinya. 

Berani Mengkritik Kekuasaan Pemerintahan



Diceritakan bahwa suatu pagi, Diogenes sedang berjemur dibawah mentari pagi. Kemudian ia didatangi Raja Alexander Agung.

 “Aku adalah Alexander Agung,” Kata sang Agung memperkenalkan dirinya dengan penuh kebanggaan.

 “Dan aku adalah Diogenes si Anjing,” jawab Diogenes dengan tenang. 

“Apakah kau menginginkan sesuatu dariku?, jika kau menginginkan harta akan aku berikan kepadamu sebanyak apapun, jika kau menginginkan wanita aku bisa memberikannya juga padamu, dan jika kau menginginkan kekuasaan, dan kedudukan akan aku berikan jabatan itu untukmu,” tawar sang raja kepada Diogenes.

Diogenes hanya menatapnya sejenak, lalu menjawab dengan santai, “Aku ingin kau mundur, kau menghalangi cahaya matahariku, minggirlah.”

Jawaban itu tidak membuat Alexander Agung itu marah, justru sang raja tersebut malah terkesima. ia tertawa, lalu berkata kepada para pengawalnya, “Jika aku bukan Alexander, aku ingin menjadi Diogenes.”

Pernyataan Diogenes yang meminta minggir kepada sang raja bukan hanya sekedar penghinaan, namun sebuah pernyataan filosofis. ia menunjukkan bahwa kebebasan sejati itu jauh lebih berharga dan tidak bisa dibeli dengan kekayaan ataupun kekuasaan apapun.


Pada akhirnya, pemikiran Diogenes mengajarkan kita bahwa kekayaan dan status sosial bukanlah jaminan kebahagiaan. Melalui gaya hidup minimalis, keberanian mengkritik, dan pencarian integritas, Diogenes menunjukkan bahwa kemerdekaan sejati terletak pada kejujuran pada diri sendiri dan kesederhanaan hidup. Filosofinya yang radikal di masa lalu, kini justru menjadi panduan berharga bagi anak muda yang ingin melepaskan diri dari tekanan sosial dan menemukan makna sejati dalam hidup


Jumat, 22 Agustus 2025

Kolaborasi Literasi: Meningkatkan Kritisisme dengan Dasar Logika yang Benar sebagai Senjata Intelektual

Kolaborasi Literasi: Meningkatkan Kritisisme dengan Dasar Logika yang Benar sebagai Senjata Intelektual


Di era yang serba digital saat ini, kira-kira apa pentingnya sih berpikir kritis itu?, mengapa kita harus berpikir kritis?. Sebelum kita berpikir kritis, kita harus mengetahui terlebih dahulu, bagaimana caranya kita berpikir kritis.

Acara ini merupakan sebuah acara kolaborasi antara Akademi Lisium yaitu sebuah komunitas yang berfokus pada kegiatan literasi, dengan OSMAUDA yaitu OSIS MA Unggulan Amanatul Ummah 02. Tujuan diselenggarakannya acara kolaborasi ini selain menjalin relasi yaitu memberikan kajian tentang logika dan berpikir kritis.

https://youtu.be/aXYsn6o4tIc?si=nWTlCUZ6CybJQyBY

Latar Belakang dan Tujuan

 Kemampuan berpikir kritis merupakan hal yang penting bagi setiap orang, hal ini berpengaruh terhadap kemampuan memecahkan atau menghadapi permasalahan. begitupula dengan kemampuan berlogika, yang mana tanpa kaidah-kaidah berpikir yang sistematis kita tidak akan bisa sampai pada kesimpulan yang tepat. hal tersebut merupakan bagian yang sangat penting dalam berpikir kritis. Di era serba digital saat ini, dimana informasi beredar dan tersebar secara luas dan bisa diakses dimana saja dan kapan saja. semakin banyaknya informasi yang beredar, semakin sulit membedakan mana informasi yang benar dan salah atau hoaks.

Selain daripada itu, kemampuan berlogika dan berpikir kritis itu sangat penting untuk kepemimpinan, yang mana seorang pemimpin sangat berperan dalam mengambil sebuah keputusan dalam sebuah kelompok/organisasi. kemampuan berpikir kritis ini sangat diperlukan ketika mengambil sebuah keputusan. Hal ini dijadikan sebagai alasan mengapa acara kolaborasi ini masuk dalam kegiatan Pra-LDKS (Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa).

Proses Pelaksanaan Acara

Awal mula ide kolaborasi ini muncul yaitu ketika kami melakukan rapat para leader beserta penasihat komunitas, yang mana tujuannya yaitu untuk memperluas jangkauan pemikiran dari komunitas kami, dan memberikan kontribusi langsung kepada masyarakat, maka dicetuskanlah ide kolaborasi tersebut.


 Rapat Para Leader beserta Penasihat

Selanjutnya kami memilih subjek yang akan diajak untuk berkolaborasi, kami memilih sekolah MA Unggulan Amanatul Ummah 02 karena kebanyakan anggota komunitas merupakan alumni dan beberapa masih bersekolah disana. segeralah kami membuat surat persetujuan dan proposal untuk diajukan ke pihak sekolah, dan akhirnya disetujui sebagai kegiatan Pra-LDKS yang berarti pesertanya adalah siswa-siswi kelas 10 secara keseluruhan, dan tentunya yang terlibat dalam acara kami adalah OSIS MAU Amanatul Ummah 02 juga disebut OSMAUDA, dengan pemateri yang jumlahnya ada tiga yang mana dari komunitas sendiri.  



Foto dengan peserta

Materi yang Disampaikan

Ada beberapa materi yang disampaikan diantaranya yaitu sejarah perkembangan logika yang mana membahas tentang Aristoteles sebagai pendiri ilmu logika dengan kontribusi terbesarnya yaitu Silogisme, dan Cicero sebagai tokoh yang mempopulerkan istilah logika. 

Selanjutnya kami juga membahas tentang tiga hukum logika yaitu Hukum Identitas yang menyatakan bahwa sesuatu adalah dirinya sendiri, Hukum Kontradiksi yang menyatakan bahwa tidak mungkin suatu hal pada saat yang sama adalah hal itu dan bukan hal itu, Hukum ketiga yang terangkat yang menyatakan bahwa suatu pernyataan hanya ada dua kemungkinan yakni benar atau salah, tidak ada opsi jalan tengah. dan juga kami membahas tiga jenis silogisme, yaitu Silogisme Kategorik, Hipotesis, dan Disjungtif/dilema.

Berikutnya kami membahas tentang keterkaitan antara logika dan kepemimpinan, dan dampak dari seorang pemimpin yang memiliki kecacatan dalam berlogika. Hal ini penting untuk dibahas karena dalam kepemimpinan sangat dibutuhkannya kemampuan berpikir logis untuk membuat suatu keputusan.

Kami juga membahas beberapa jenis kecacatan dalam berlogika atau disebut juga logical fallacy, yaitu kesesatan dalam berpikir yang mana diantaranya ada Ad Hominem atau menyerang karakter, Strawman Fallacy atau memelintir argumen lawan, dan lain sebagainya.

Dan yang terakhir kami membahas pentingnya kritisisme sebagai fundamental seorang pemimpin, dengan beberapa indikatornya yaitu mengapa kita harus berpikir kritis?, Apa itu berpikir kritis?, dan bagaimana caranya berpikir kritis. selanjutnya perilaku berpikir kritis yang mana ada tiga pembahasan bagaimana karakteristik sebelum, pada saat, dan setelah berpikir kritis. lalu tentang pengetahuan dan lain sebagainya.

Berpikir kritis merupakan proses mental atau aktivitas mental yang dilakukan untuk mengevaluasi suatu kebenaran dalam sebuah pernyataan, hasil dari evaluasi tersebut yaitu menerima kebenaran, menolak kebenaran, dan meragukan kebenaran.

Kesimpulan dan Harapan



Logika, yang fondasinya diletakkan oleh Aristoteles, adalah ilmu yang membantu kita menalar dengan benar. Tiga hukum dasar logika Hukum Identitas, Hukum Kontradiksi, dan Hukum Ketiga yang Terangkat adalah prinsip-prinsip universal yang memastikan konsistensi dan kebenaran dalam argumen. Mereka menyatakan bahwa suatu hal adalah dirinya sendiri (A = A), tidak mungkin suatu hal sekaligus menjadi dirinya dan bukan dirinya (A tidak mungkin A dan non-A), dan segala sesuatu haruslah salah satu dari dua kemungkinan (A atau bukan A).

Di sisi lain, Logical fallacy (sesat pikir) adalah kebalikan dari penalaran yang benar. Ini adalah kesalahan dalam struktur argumen yang membuat kesimpulan tampak valid padahal tidak. Memahami fallacy seperti ad hominem (menyerang orangnya), strawman (memutarbalikkan argumen).

Dengan memahami logika dan mengenali sesat pikir, kita bisa melindungi diri dari manipulasi, membuat keputusan yang lebih rasional, dan membangun argumen yang lebih kuat. Ini adalah fondasi penting untuk berpikir kritis kemampuan untuk menganalisis informasi secara objektif dan membuat penilaian yang beralasan.

Kami berharap kegiatan kami memberikan manfaat berupa pengetahuan dan bisa mengimplementasikan dasar-dasar logika dan berpikir kritis dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Selain daripada itu kegiatan ini juga memberikan manfaat bagi kami selaku dari komunitas, yaitu memberikan pengalaman yang berharga. Saya dan teman-teman komunitas mengucapkan terimakasih banyak kepada pihak sekolah MAU Amanatul Ummah 02 dan teman teman OSMAUDA atas kesempatan berkolaborasi dengan kami.

#logika #kritisisme #Aristoteles #filsafat

Senin, 24 Februari 2025

Pelajar/Mahasiswa Kebanyakan Pengecut???

Belakangan ini, rasa puas terhadap perkuliahan sendiri mulai terkikis. Ketidakpuasan ini dipicu oleh beberapa hal, terutama perilaku dosen yang seringkali mengubah jadwal kuliah secara mendadak dan tanpa pemberitahuan yang jelas. Perubahan jadwal dari offline menjadi online, khususnya, sangat mengganggu dan terasa tidak adil.

Ironisnya, beberapa dosen bahkan tidak menunjukkan tanggung jawab profesional mereka. contohnya, Ada yang hanya bergabung dalam kelas online sebentar, lalu keluar begitu saja setelah memberikan tugas. adajuga yang membuat perubahan jadwal perkuliahan begitu saja, tidak memikirkan mahasiswa yang sudah datang dari jauh dan pas tiba di kampus jadwal perkuliahan diganti menjadi online. Perilaku ini sangat merugikan mahasiswa yang seharusnya mendapatkan pendidikan yang layak.

Sebenarnya, banyak mahasiswa menyadari ketidakadilan ini. Namun, mengapa kita memilih untuk diam? Mengapa kita tidak berani menyuarakan pendapat dan kritik? Apakah kita semua telah menjadi pengecut?. Pengecut adalah sebuah julukan untuk orang yang memiliki rasa secara berlebihan dan tidak berani mengambil risiko dalam tindakannya. 

Mahasiswa berhak mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Kita perlu berani berpikir kritis dan menyampaikan aspirasi kita. Jangan biarkan rasa takut membungkam suara kita. Mari kita lawan ketidakadilan ini bersama-sama!

Lebih memprihatinkan lagi adalah sikap apatis sebagian mahasiswa yang seolah menganggap semua ini wajar. Atau, mereka yang hanya berani mengeluh di belakang, tetapi bungkam saat ada yang berani bersuara, bahkan menyalahkan orang yang bersuara tersebut karena merasa terancam dan ingin terhindar dari masalah. Sikap seperti ini justru semakin memperburuk keadaan.

Sudah saatnya kita, mahasiswa, bangkit dan bersuara! Jangan takut untuk mengkritik dan menuntut hak kita. Hanya dengan keberanian, kita bisa membawa perubahan positif bagi dunia pendidikan.

Jumat, 30 Agustus 2024

Perlawanan terhadap Kebodohan Sebagai Bentuk Perjuangan Kemerdekaan

 



 Apa itu kemerdekaan?

Sebelum memahami arti kemerdekaan, kita harus tahu terlebih dahulu arti dari kata "Merdeka". Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti merdeka adalah bebas, tidak terkena atau lepas dari tuntutan, dan tidak terikat. Asal usul kata "Merdeka" yaitu berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu "maharddhika" yang berarti kaya, sejahtera, dan kuat. Jadi, dapat kita simpulkan bahwa "Kemerdekaan" ialah keadaan dimana kita berdiri sendiri dan bebas dari tuntutan atau kekangan sehingga kita dapat hidup dengan kuat dan sejahtera. merdeka bukan hanya sekedar kata, akan tetapi merdeka memiliki makna yang dalam dan menggambarkan semangat penuh perjuangan untuk memperoleh kebebasan. 



Dilihat dari sudut pandang sejarah, kemerdekaan memiliki arti keadaan dimana kita bebas dari penjajahan bangsa asing. Dan kita telah merdeka dari penjajahan tersebut sejak 17 Agustus 1945, dimana Presiden Sukarno memproklamasikan kemerdekaan sebagai simbol dari kemerdekaan tersebut. Dengan penuh semangat perjuangan dan perlawanan para pahlawan terhadap para penjajah itulah kita bisa merdeka dari masa penjajahan tersebut. Dan salah satu penyebab kenapa bangsa kita bisa dijajah adalah karena kebodohan bangsa kita sendiri.

Kebodohan sebagai penyebab bangsa kita dijajah

Salah satu alasan dimana bangsa kita dijajah itu adalah karena kebodohan bangsa kita sendiri. Dilihat dari sudut pandang sejarah, Kerajaan Ternate yang merupakan salah satu dari dua kesultanan besar islam di wilayah maluku runtuh akibat teknik permainan politik adu domba yang dilakukan bangsa asing, hal itu menjadi bukti dimana kebodohan bisa menjadi salah satu penyebab bangsa kita dijajah oleh bangsa asing. dan masih banyak lagi kejadian-kejadian dimana bangsa kita sering dipermainkan oleh bangsa asing.


Sebagai bentuk perlawanan para pahlawan terhadap bangsa asing ialah dengan belajar, supaya apa?, supaya bangsa kita tidak mudah dibodohi oleh bangsa lain. Banyak dari para tokoh pahlawan yang menjadi inspirasi bagi kita diantaranya adalah Bung Hatta yang menempuh pendidikan di Universitas Erasmus Rotterdam, di Belanda, Sutan Sjahrir yang melanjutkan pendidikan di Universitas Amsterdam di Belanda, dan masih banyak lagi. Para Pahlawan tidak hanya menuntut ilmu di lembaga pendidikan formal saja, tetapi juga belajar dari pengalaman hidup, perjuangan, dan semangat nasionalisme.
Selain kebodohan, juga terdapat faktor-faktor lain yang menyebabkan bangsa kita dapat ditundukkan oleh bangsa asing antara lain; kondisi teknologi yang masih tertinggal, perpecahan, kekuatan militer bangsa penjajah yang lebih besar, dan ketidakmampuan bangsa kita melawan persenjataan bangsa penjajah.

Penjajahan pada masa kini

Sumber: Medcom.id


Meski kita telah memproklamasikan kemerdekaannya pada 1945 lalu, akan tetapi negara kita masih terjajah pada saat ini. Penjajahan pada masa kini berbeda dengan penjajahan pada masa kolonialisme. Di era modern ini, penjajahan masih sering terjadi dalam bentuk kasat mata atau jelas maupun yang tak kasat mata atau secara halus, seperti penjajahan terhadap hak suara rakyat. suara kritik dari rakyat terhadap pemerintahan sering kali tidak didengar oleh pemerintah. dan juga banyaknya kasus pelanggaran HAM di Indonesia. Pelanggaran HAM adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang yang secara hukum mengurangi, menghalangi, sera mencabut hak asasi manusia dan itu menyebabkan ketidakamanan dan ketidaknyamanan serta merusak perdamaian dan memicu konflik yang lebih besar. Dalam hal ini kita tidak hanya dijajah oleh bangsa asing, akan tetapi kita masih dijajah oleh bangsa kita sendiri, artinya kita belum bebas, belum merdeka.
Selain daripada itu, kini masyarakat Indonesia juga sedang dijajah oleh kemajuan teknologi yang sangat pesat, yang mana semuanya serba mudah sehingga kita mengalami ketergantungan terhadap teknologi secara berlebihan bahkan disebut juga dengan "Penjajahan Digital".  
Inilah alasan kenapa kita harus memperjuangkan kemerdekaan kita dengan cara apa? tentu saja kita harus belajar supaya kita tahu keadaan saat ini dan bahkan bisa memprediksi kemungkinan-kemungkinan  yang akan terjadi pada masa mendatang, dan yang paling utama adalah supaya kita tidak dibodohi oleh bangsa sendiri maupun bangsa asing.

Bentuk Perlawanan terhadap kebodohan


Bagaimana cara kita untuk melawan kebodohan jika kita tidak mempunyai pengetahuan dan wawasan yang cukup? Dalam hal ini kami melakukan upaya perlawanan terhadap kebodohan tersebut dengan kegiatan literasi serta berdiskusi. Kegiatan literasi sangat penting dalam upaya ini, kita perlu pengetahuan serta wawasan untuk meningkatkan kesadaran akan keadaan saat ini. dan tentu saja dilanjutkan dengan berdiskusi, setelah kita mendapatkan sebuah pemahaman akan sesuatu, alangkah baiknya kita lanjutkan dengan kegiatan berdiskusi. dengan berdiskusi, kita saling berbagi pengetahuan dan bisa mendapatkan wawasan dan pandangan baru mengenai pengetahuan tersebut, dan jika ada pandangan yang berbeda, dengan berdiskusi akan menghasilkan suatu kesimpulan. kegiatan ini juga melatih kritisisme serta rasionalitas kita, yang mana itu adalah hal paling penting dalam upaya melawan kebodohan.

Cukup sekian, Saya Adi Trisna Nugraha, Mahasiswa S1 Akuntansi dari Fakultas Ekonomi Bisnis dan Teknologi Digital, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya
Mengucapkan Terimakasih




 

Sering dianggap gila, inilah beberapa pemikiran Diogenes yang ternyata relevan untuk anak muda jaman sekarang.

  Sering dianggap gila, inilah beberapa pemikiran Diogenes yang ternyata relevan untuk anak muda jaman sekarang.   Diogenes, juga dikenal se...